| » Profil |
| » Pemerintahan |
| » Peraturan Perundangan |
| » Informasi Perijinan |
| » Pariwisata |
| » Potensi Investasi |
| » Fasilitas Umum |
| » Informasi Lainya |








|
DILANDA KRISIS BERKEPANJANGAN, PETERNAK AYAM RAS DESAK PEMDA LAKUKAN LANGKAH PROAKTIF
Kamis, 4 Maret 2010 8:0:0 Wita, oleh Humas Karangasem
|
|
|
|
Menyusul krisis berkepajangan yag melada peternak ayam ras, sejumlah peternak medesak Pemkab. Pemprop melakuka langkah proaktif utuk meyelamatkan idustri unggas yang kini megap-megap.Menurut pengusaha ternak asal Magiis I Komang Semadi saat ditemuai (2-3-2010) mengaku selama 7 bulan terakhir megalami kerugiam besar, jika pu ada perbaika harga pakan dan harga telur antinya palig tidak dalam 7 bula kedepan baru bisa pulih kembali. Dikatakan, sejumlah persoalan yang melilit sektor padat m,odal da padat karya saat ini disampig harga telur yag masih anjlog sekitrar Rp. 590 jauh dibawah BEP yag sudah mencapai harga Rp. 625/butir. Disamping itu harga pakan yag membubug tinggi serempak dari semua komponen baik jagung yang sangat strategis, dedak maupun konsentrat secara kolektif sama-sama naik hargaya, serta kebijaka sejumlah daerah yang menutup masukya telur luar termasuk dagimg se[perti di NTB, padahal Bali sudah diyataka bebas viruis AI (Flu Burung). Kodisi produksi telur saat ini sudah katagori over produksi, yag tidak mampu terserap pasar. Pasar antar pulau sendiri dikatakan Semadi, sudah dibatasi bahkan ditutup sejumlah daereah seperti Kaltik da NTB, sebagai kedala utama peterak dewasa ini. Degan peutupa pemasram telur atar daerah maka otomatis harga telur di Bali dikuasai/dikendalika Jawa Timur, karena mereka menguasai pasar baik di Lombok da Sumbawa serta Bali sendiri juga dimasuki telur dari Jawa. Produksi telur Karangasem sendiri per hari mecapai 420.000 butir dengan total populasi sekitar 1.200.000 ekor, jika dibadigkan dengan ju,mlah penduduk produksi telur sudah tidak terserap. Kalaupu dipasarkan ke NTB kondisinya sudah jenuh karena sudah dimasuki telur dari Jawa. Sementara pasar hotel maupun tradisional di Bali penyerapan telur juga relatif kecil. Untuk itu peternak mendesak pemerintah di Bali dan Karangasem khususnya segera membantu industry unggas peternakan ayam ras melalui kampanye program aksi budaya makan telur sebagai sumber protein dan vitamin hewani yang unggul, menginstruksikan pemberian makanan tambahan di semua Posyandu dengan menu menggunakan telur, serta mengumandangkan peningkatan gizi masyarakat melalui konsumsi telur sebagai sumber makanan bergizi. Selain itu langkah lain yang penting adalah adanya kerjasama antar daerah dalam pemasaran telur, sehingga terbuka akses pasar lain, serta melakukan kerjasama untuk menopang kebutuhan bahan baku pakan jagung dengan berbagai daerah seperti Gorontalo yang dikenal sebagai penghasil jagung untuk menstabilkan harga jagung dalam negeri dibandingkan melakukan eksport keluar. Adapun perhitungan penyerapan bahan baku pakan untuk mengetahui kebutuhan akan jagung antara lain pakan bagi 600.000 ekor ayam di Karangasem X 120gram/ekor/hari menjadi 72 ton pakan/hari, sementara jagung diserap 45% atau 33 ton/hari, Kosentrat 35% atau sekitar 51 ton/hari dan dedak terserap sekitar 20% atau setara dengan 14 ton / hari. Terpenting lagi kebijakan NTB yang menutup antar pulau daging ayam sejak 2003 karena ancaman AI sekarang mestinya dibuka untuk pemasaran ayam Bali, kebijakan tersebut bisa dilakukan buka tutup, jika memang ada ancaman bisa ditutup tetapi kalau sudah aman seperti sekarang hendaknya dibuka. Langkah ini hanya bisa dilakukan antar pemerintah daerah, tidak mungkin ditembus peternak. Di Bali harga ayam pasca bertelur hanya Rp. 17.000/ekor sedangkan di Lombok mencapai Rp. 30.000/ekor, jadi sangat mungkin pasar Lombok menyerap ayar produksi dari Bali. Adapun data populasi ayam ras (petelur) di Kabupaten Karangasem mencapai 600.000 ekor, terkosentrasi di 2 Kecamatan yakni Kecamatan manggis dan Karangasem. Di wilayah Kecamatan Manggis saja ada 400.000 sedangkan di wilayah Kecamatan Karangasen ada sekitar 200.000 ekor, dengan meneyerap tanaga ekerja hingga 450 orang. Dari potensi tersebut jika deprogram dalam pola pertanian terintegrasi dengan perlatan tehnologi maka limbah kotoran ayamnya mampu menghasilkan 36 ton/pupuk basah / hari dengan perhitungan 600.000 ekor X 60gram kotoran /hari, jika dijadikan pupuk kering melalui proses pengolahan tadi maka diperoleh pupuk organik bersih siap jual sejumlah 18 ton/hari, sebagai pendukung program terintegrasi untuk berbagai budidaya tanaman produktif. |
|
|
( I Wayan Geredeg, SH )
|
|
|
( I Made Sukerana, SH )
|
| Mg | Sn | Sl | Rb | Km | Jm | Sb |
| 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 |
| 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | 31 | ||||
Bagus | |||
Biasa saja | |||
Jelek | |||



